-
1
28
Maypagi ini, April, September, dan November merumuskan bahwasanya dalam jangka waktu lima tahun mendatang, kami akan membangun sebuah usaha bersama dalam bidang peternakan SAPI PERAH (yang warnanya putih item itu lhoo nyuu :3)
sehubungan dengan profesi November sebelumnya (dokter hewan- red.) maka,…
-
9
May
As long as they are close, different people can understand each other.
- Beautiful Life
1 tahun 6 bulan 2 minggu 5 hari
Banyak bertengkar, cepat baikan. =P
-
7
Mar[Flash 9 is required to listen to audio.]Maliq n d’Essentials - Coba Katakan
coba coba katakan kepadaku bahwa kita sedang berjalan menuju satu alasan,
janganlah kau katakan bila kita memang tak ada tujuan, dari apa yang dijalankan,aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..coba coba katakan kepadaku sekali lagi bila kita memang benar akan kesana,
buktikan dan buat aku percaya bahwa kita bisa, mewujudkan bahagia,aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..ohh.. oh.. habis sudah semua rangkai kata..
telah terungkap semua yang kurasa..
yang kuingin akhir yang bahagia.. hoo..aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka..aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan,
terlena akan manis cinta dan berujung kecewa,
aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti,
lebih baik kita menangis dan terluka hari ini..wohoho.. dudududu…
wohoho.. dudududu…yang ku inginkan..
satu tujuan..
sebuah kenyataan..
bukan impian..
bukan harapan..
bukan alasan..
satu kepastian..coba katakan..
coba katakan..
coba katakan..
coba katakan.. -
7354
25
Feb
(Source: leilockheart, via nguiknguik)
-
11
8
Jan"I’m so excited to make myself love you. Yay!"
- (via zarryhendrik) -
1
JanBad Scene : Pembuat Patung
Semalam saat dia tiba-tiba datang ke kamar kos ku, matanya sembab. Dia menangis di bahuku tanpa alasan. Air mata wanita memang cenderung sulit ku tebak penyebabnya. Jadi kubiarkan saja dia menangis, sesekali kuelus kepala dan punggungnya. Aku tidak berani bertanya apa-apa. Aku lebih suka membiarkannya bercerita sendiri sesukanya, seperti biasa.
Demi mencarinya hari ini aku berkeliling mulai dari tempat kosnya, lab, kelas, gedung-gedung di kampus, taman, hampir semua tempat yang mungkin untuk dia kunjungi aku datangi. Hingga matahari mau pamit, tampak sudah lelah seperti aku. Detik itu juga aku teringat gudang bawah tanah. Beberapa bulan yang lalu dia menyuruhku meletakkan barang pesanannya di gudang tak terpakai itu.
Aku buka pintu bercat putih yang menutupi gudang. Ruangan itu gelap, tapi aku bisa mendengar suara nafas seseorang. Itu dia. Dan aku sedih melihatnya terduduk lemah di tengah ruangan gelap. Aku mendekatinya dan langsung memeluknya, aku tahu dia baru saja terisak, sempat kulihat matanya merah. ”Aku cari kamu kemana-mana, dan ini tempat terakhir. Aku tahu apa yang kamu lakukan disini. Tolong sadarlah, Dek!”. Selalu kusapa dia dengan panggilan itu setiap dia terlihat rapuh, tak sekuat biasanya.
”Sadar tentang apa?” tanyanya polos. Dia pura-pura tidak tahu maksudku, dan aku kebal untuk yang satu ini. Aku melepasnya dari pelukanku lalu berdiri dan kembali ke dekat pintu. Tampaknya dia tahu aku ingin menyalakan lampu ruangan, karenanya dia teriak, ”Jangaaaaan!” Tapi lampu sudah menyala.
Aku berpaling lagi kearahnya. Kini dia menunduk lesu dan menangis di atas lantai kayu. Sudah jelas terlihat tubuhnya bergetar. ”Lihat semua ini!” bentakku menahan perih. Aku angkat wajahnya dengan tanganku. Tapi dia tidak mebiarkan aku melihat bola matanya. ”Lihat!” bentakku sekali lagi.
Perlahan dia membuka matanya dan melihat sekeliling. Melihat dinding yang dipenuhi foto-fotonya dengan mantan pacarnya. Melihat beberapa patung model ciptaanku di ruangan itu yang juga mirip dengan sosok yang diidolakannya, bukan hanya wajah tapi juga gerak kebiasaanya. Salah satunya yang didudukkan di kursi panjang, tepat di sampingnya.
”Ini kenyataan yang harus kamu hadapi. Kenyataan kalau dia udah nggak disini lagi,” kataku dengan amat pelan dan hati-hati. Dia justru semakin menangis. Aku tahu baginya pasti berat mengakui kecelakaan maut yang membuat mantan pacarnya terbaring kaku dan dibenamkan dalam tanah. Sudah cukup lama aku bersahabat dengannya, aku tetap tidak pernah tega melihatnya rapuh. Aku tak mau membiarkannya berlama-lama di dalam ruangan itu. Jadi kubantu dia berdiri dari lantai dan kutuntun keluar.
Sudah setahun semenjak kejadian itu, dan selama itu aku menyayanginya. Membuatku sadar, aku bukan membangkitkannya dari relung sedih masa lalunya, tapi aku membangkitkan diriku sendiri karenanya. Dia yang polos. Dia yang tidak pandai menutupi harapannya tentang hubungan kami. Mungkin aku lah penjahatnya, yang egois, yang penasaran, yang menciumnya, yang ingin tau reaksinya. Tapi aku membiarkannya. Aku membiarkannya menunggu dan bertanya-tanya sendiri ada apa dengan kami. Sampai aku tau dia mulai letih. Dia mulai bosan dengan celoteh orang tentang kami. Aku tau semua omong kosong orang-orang sampah itu menyakitinya. Tapi sebut saja aku pengecut, sebut saja aku pecundang yang hanya bisa menemaninya sebatas penghalang yang aku buat sendiri.
Aku membangkitkannya tapi aku tidak sanggup menuntunnya. Jadi kurelakan dia bersama orang lain yang mampu terus merangkulnya. Dan aku hanya bisa berkata, “Maaf.. aku seperti menggantungkanmu sebelumnya.” Tapi dia hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Seperti memang tidak ada apa-apa tapi sebenarnya kami kenapa-kenapa.
Sudah setahun semenjak kejadian itu, dan kini kami bertemu, berdiri berhadapan. Pengantin yang cantik, sayangnya bukan pengantinku. Dia diam menunggu jawabanku. Diam menunggu jawaban atas rasa penasarannya. Diam menunggu keberanianku. Diam menunggu kejujuran yang terlambat. “Ya, dulu aku menyayangimu, tapi dulu aku tidak sanggup bersamamu. Kamu tau alasannya. Sekarang aku berbahagia atas kebahagiaanmu dengannya.”
Ku denganmu selalu menjadi pertanyaan
Tanpa sebuah jawaban tentang cinta
Dirimu dan aku t’lah banyak buang waktu
Trus mencari jawaban mencari alasan cinta
(Maliq & D’Essentials - Penasaran) -
1337
9
Dec
(Source: mystandards, via kenmentari)
-
29
NovCemburu
Seperti tidak ada yang bisa dikatakan lagi.
Mungkin diam memang respon yang paling baik.
Aku menunduk lesu. Entahlah, rasanya ingin teriak tapi membuka mulut saja susah, seperti di sekap dekap tertekan ulu hati.Ah, mungkin memang terlalu sakit.
Cemburu itu… yah, persis yang mereka bicarakan jadi memang sudah tidak ada yang bisa dikatakan lagi.Ini bukan hanya masalah waktu, tapi lebih karena sering bertemu, karena kita terlalu dekat lekat berdekatan, sampai-sampai tidak ada lagi yang perlu diceritakan, tentang hidup, tentang cinta, hambar…
Dan cemburu itu… menyelinap dari ruang-ruang kosong tanpa aku.24 jam yang habis dengan cepat tak jadi masalah kalau sedikit saja tidak terperas, menarik napas.
Tapi cemburu itu… mengusik waktu padat yang memuakkan, membuat muntah.Ah, andai saja cemburu itu asupan bergizi tinggi, aku sudah gemuk kini.
-
135
10
NovBeliau
Beliau menua
tulangnya tak sekuat dulu
Matanya tak lagi awas
rambutnya pun kian memutih
Ingin kupeluk beliau erat,
seerat dulu aku digendong
Aku anak yang nakal,
yang kadang tak ingat pulang.
Kupikir Tuhan begitu baik,
ada aku diam di rumah.
Kulihat kerut pada keningnya,
masa depanku yang terpikirkan.
Beliau duduk termenung tenang,
mendoakanku di dalam hati.
Beliau menatapku dengan sumringah,
matanya seakan memberi perintah,
“sini peluk mama, selagi mama masih bernafas!”
-
36302
31
Oct
(Source: lovequotesrus, via zarryhendrik)
-
GENIUS!
-
labil di tengah jalan
Suatu hari saya bersama si A, si D si T dan si I melihat si sepasang muda...


